Jangan Terbuai akan Masa Depan

Ada sebuah kisah yang penulis ingat ketika penulis kuliah dan masih membahas akan suatu progam kerja, ketika itu senior penulis membawakan kisah yang secara tak langsung mengatakan jangan terlalu terbuai dengan progam kerja dan selalu libatkan Allah dalam rencana tersebut. 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Sesungguhnya kaum Quraisy mengutus An-Nadhr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu‘ith kepada para pendeta Yahudi di Madinah. Mereka berkata kepada para pendeta itu:

“Tanyakan kepada mereka tentang Muhammad ﷺ. Jelaskan sifatnya kepada mereka dan kabarkan ucapan-ucapannya, karena mereka adalah ahli kitab terdahulu dan memiliki pengetahuan tentang para nabi yang tidak kami miliki.”

Maka keduanya bertanya kepada para pendeta Yahudi.

Para pendeta itu berkata:

“Tanyakan kepadanya tiga perkara yang akan kami perintahkan kepada kalian. Jika dia dapat menjawabnya, maka dia benar-benar nabi yang diutus. Jika tidak, maka dia hanyalah orang yang mengada-ada perkataan, maka putuskanlah sikap kalian terhadapnya.”

  • Tanyakan kepadanya tentang para pemuda yang hidup pada masa dahulu, bagaimana kisah mereka? Karena mereka memiliki kisah yang menakjubkan.
  • Tanyakan kepadanya tentang seorang laki-laki pengembara yang mencapai timur dan barat bumi, bagaimana kisahnya?
  • Tanyakan kepadanya tentang ruh, apakah itu?

Jika dia menjawabnya, maka dia seorang nabi. Jika tidak, maka dia hanyalah orang yang mengada-ada.


Lalu mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:

“Wahai Muhammad, kabarkan kepada kami tentang (3 hal di atas)”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Aku akan memberitahukan kepada kalian besok.”

Namun beliau tidak mengucapkan “insyaAllah.”


Maka wahyu terhenti selama lima belas malam. Hingga penduduk Makkah mulai menyebarkan isu dan berkata:

“Muhammad telah menjanjikan kepada kami besok, tetapi sudah lima belas hari berlalu dan ia belum memberitahukan apa pun kepada kami.”

Rasulullah ﷺ pun merasa sangat sedih karena ucapan mereka.

Kemudian Jibril ‘alaihis salam datang membawa Surat Al-Kahfi, yang di dalamnya terdapat teguran atas kesedihan beliau dan jawaban atas pertanyaan mereka, serta firman Allah:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا  إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa, dan katakanlah: “Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. [al-Kahfi/18:23-24]

Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz menjelaskan dalam tafsirnya "Allah menyampaikan kepada rasul-Nya agar dia menyampaikan kepada umatnya larangan tegas tentang urusan seseorang di masa depan dengan berkata ‘aku akan melakukan ini’ tanpa menyertainya dengan ucapan ‘Insya Allah’, sebab segala sesuatu hanya terjadi dengan kehendak Allah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika kamu lupa mengucapkan ‘Insya Allah’. Dan setiap kali kamu lupa sesuatu maka ingatlah Allah dengan berdoa dan tunduk kepada-Nya. dan katakanlah: “Semoga Allah memberiku taufik kepada sesuatu yang lebih baik bagi agama dan duniaku.”

Jadi janganlah kita terbuai dengan masa depan, yang menjadikan seakan akan kita pasti bisa melakukannya atau bisa menjangkaunya, karena sesungguhnya masa depan itu merupakan perkara ghaib yang kita tidak tahu bagaimana selanjutnya, dan semua ini berjalan karena kehendak Allah.
Kata InsyaAllah juga berarti kesempurnaan akidah kita dan wujud iman kita kepada takdir Allah. Dan kata ini menimbulkan jiwa tawakkal kepada kita serta menghancurkan kesombongan halus (hidden arrogance).


Batang, 1 Maret 2026/ 12 Ramadan 1447
IGD RSUD Batang


Ulul Albab

Sumber
Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an >> Referensi: https://tafsirweb.com/4849-surat-al-kahfi-ayat-23.html
Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya imam Jalaluddin as-Suyuti


Comments

Popular posts from this blog

Berhati Hati dalam Berbangga Diri (Kisah Perang Hunain Bagian 1)

Satu Diterima, Satunya Ditolak

Waktu Combo untuk Berdoa

Dibalik Panggilan dan Seruan (Kisah Perang Hunain Bagian 2)

Nabi saja Berdoa, Apalagi Kita?