Dunia atau Akhirat
Pada perang Uhud, Rasulullah menempatkan sekitar 50 pasukan pemanah di atas bukit Rumat guna melindungi pasukan yang berada di bawah dengan berpesan tidak meniggalkan posisi walau melihat pasukan yang berada di bawah menang atau pun kalah. Namun ketika melihat pasukan musuh mulai kocar kacir disertai dengan meninggalkan ghanimah yang cukup banyak, beberapa pasukan pemanah mengira bahwa kaum muslimin sudah menang dan berkata “Kita menang! Turunlah! Kita takut tidak kebagian ghanimah.” Abdullah bin Jabir berkata "Bukankah Rasulullah melarang kita turun?” Tapi 40 pasukan mengaibakannya dan hanya menyisakan 10 pasukan pemanah di atas.
Khalid bin Walid, yang saat itu masih kafir, melihat celah kosongnya bukit tersebut, langsung berbalik arah menduduki bukit itu dan menghujani para kaum muslimin yang sedang di bawahnya hingga akhirnnya keadaan berbalik, yang awalnya berbuah kemenangan menjadi kacau balau. Sampai syahidlah 70 kaum muslimin pada perang Uhud.
Pada kisah lain, terjadi antara al Hasan al Bashri dan asy Sya'bi. Suatu ketika Umar bin Hubairah (gubernur Iraq pada waktu itu) datang kepada mereka dan berkata "Sesungguhnya amirul mukminin Yazid bin Abdul Malik telah mengirimkan surat, aku tahu jika dilaksanakan maka akan menghadirkan keninasaan, jika aku memtaati amirul mukminin, maka aku mendurhakai Allah, jika aku mendurhakai amirul mukminin, maka aku mentaati Allah. Apakah kalian melihat jalan keluar bagiku dalam mentaati amirul mukminin?"
Maka asy Sya'bi memberikan jawaban yang lunak kepada Umar, lantas Umar bertanya kepada al Hasan al Bashri.
Maka al Hasan al Bashri menjawab " wahai Umar bin Hubairah, tidak lama lagi seorang malaikat Allah yang kasar lagi keras yang tidak mendurhakai perintah-Nya akan datang kepadamu, dia akan mengeluarkan dari istanamu yang lapang menuju kuburmu yang sempit. Wahai Umar bin Hubairah, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjagamu dari Yazid bin Abdul Malik, tetapi Yazid bin Abdul Malik tidak akan mampu menyelamatkanmu dari Allah.... Wahai Umar bin Hubairah, jika kamu bersama Allah dengan selalu mentaati-Nya, niscaya Dia akan mencukupimu dari murka Yazid bin Abdul Malik, tetapi jika kamu bersama Yazid bin Abdul Malik dalam mendurhakai-Nya, maka Allah akan menyerahkannya kepadanya."
Seketika Umar menangis dan dia meninggalkan tempat dengan tangisannya. Keesokan harinya Umar mengirimkan hadiah untuk keduanya dan izin bagi keduanya (untuk pulang), hadiah al Hasan al Bashri ternyata melebihi hadiah asy Sya'bi, maka asy Sya'bi keluar ke masjid dan berkata "Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian yang mampu menomorsatukan Allah atas makhluk-Nya, maka hendaknya ia melakukan. Demi Allah bukannya aku tidak mengetahui apa yang diketahui oleh al Hasan, namun aku ingin agar hati ibnu Hubairah merasa lega namun Allah justru menjauhkanku darinya."
Dari dua kisah itu, penulis jadi teringat 2 ayat
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil menjelaskan
{ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ } "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang(العاجلة > berarti sesuatu yang datang cepat / segera), maka Kami segerakan (عَجَّلْنَا >> Kami telah mempercepat) baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki" Allah tidak mengatakan : "kami segerakan apa yang ia kehendaki" melainkan Allah mengatakan : "apa yang kami kehendaki" bukan apa yang ia kehendaki "bagi orang yang kami kehendaki"; seolah Allah berkata "Kamu ingin yang cepat? Baik, Kami percepat untukmu." karena diantara manusia ada yang diberikan baginya apa yang ia kehendaki di dunia, dan ada yang diberikan baginya sedikit dari apa yang ia kehedak, dan diantara mereka bahkan ada yang tidak diberikan sedikitpun dari apa yang ia kehendaki.
Adapun di akhirat ia mesti mendapatkan buah daripada amalan yang ia kerjakan dengan mengharap ridho Allah : { وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا } "Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." [19].
Perhatikan sifat-sifat ini yang dengannya Allah menjelaskan kriteria orang-orang yang menyampaikan kebenaran dalam mengear akhirat : { وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ } "Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat" harus ada kemauan, namun tidak cukup hanya kemauan saja melainkan ada usaha dan kerja keras untuk menggapainya : { وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا } tetapi kemauan dan usaha berbuah hasil yang pasti dengan keimanan, dan inilah yang menjadi penentu dari dua kriteria tadi : { وَهُوَ مُؤْمِنٌ }.
Maka dari 2 kisah itu, penulis ambil kesimpulan bahwa ketika memang orientasi kita hanya duniawi saja, bisa jadi Allah berikan sesuai ekspektasi, atau separuhnya, atau sedikitnya, atau bahkan sangat tidak sesuai ekspektasi; namun bila kita berorientasi kepada akhirat dengan niat dan usaha yang benar benar, maka tentunya kita akan mendapatkan hasil yang masykura (dalam beberapa tasfir diumpamakan seperti Syajarah Syakirah yang berarti pohon yang berbuah sangat lebat, banyak, dan lumintu).
Allahu a'lam
Batang, 28 Februari 2026/ 11 Ramadan 1447
Rumah Tercinta
Ulul Albab
Sumber :
Catatan kajian penulis ketika masa kuliah pengisi >> mas Khalid Shibghatulloh
https://ululalbab31n.blogspot.com/2017/09/dahulukan-allah-maka-tak-rugi.html
Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil >>referensi https://tafsirweb.com/4622-surat-al-isra-ayat-18.html

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....