Tutupilah Celah Maksiat dan Penghalang Ketaatan

Setelah nabi Ibrahim dan nabi Ismail berdiskusi dan bersepakat untuk melaksanakan perintah Allah yaitu menyembelih nabi Ismail, maka dijelaskan bahwa nabi Ibrahim digoda oleh setan sebanyak tiga kali untuk menghalang halangi perintah Allah tersebut.

Yang pertama di jamrah Aqabah oleh nabi Ibrahim setan tersebut dilempar kerikil sebanyak 7 kali. Yang kedua dan ketiga di jamrah kedua dan ketiga, oleh nabi Ibrahim, setan itu dilempar kerikil masing masing 7 kali juga. Dijelaskan oleh Abdullah bin Abbas bahwa ini merupakan asal muasal manasik melempar jamrah. Kemudian setelah selesai, nabi Ismail berkata kepada nabi Ibrahim "Wahai ayahanda, tidak ada kain untuk mengafaniku selain baju yang kukenakan ini, maka bukalah bajuku ini agar nanti engkau dapat mengafaniku dengannya." 

Dijelaskan dalam surat Ash Shaffat 103 
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
“Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan Ismail di atas pelipisnya.”
(As-Saffat: 103)

Kata تَلَّهُ لِلْجَبِينِ dipahami oleh para ulama sebagai membaringkan nabi Ismail dengan wajah miring ke tanah agar nabi Ibrahim tidak melihat wajah anaknya ketika menyembelih dan nabi Ismail tidak melihat kilatan pisau tajam yang akan menyembelihnya. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini merupakan salah satu upaya nabi Ibrahim untuk mencegah munculnya rasa ragu atau halangan untuk melaksanakan perintah Allah, nabi Ibrahim mengkhawatirkan dirinya akan membatalkan perintah tersebut. 

Kemudian Allah jelaskan di ayat-ayat selanjutnya yang merupakan pujian Allah kepada nabi Ibrahmin dan Ismail atas ketaatan mereka, rasa pasrah diri mereka kepada Allah, dan usaha mereka dalam menjalankan perintah Allah (ayat 104-112).

Pada kisah ini, ada beberapa hal yang bisa ambil tauladan dari sosok nabi Ibrahim dan nabi Ismail

1. Menutup pintu yang bisa melemahkan ketaatan

Sebagai ayah, melihat wajah anak yang akan disembelih tentu sangat berat.
Karena itu beliau memilih tidak melihat wajahnya agar tidak muncul keraguan. Ini menunjukkan prinsip penting:
➡️ orang beriman berusaha menutup sebab-sebab yang bisa menghalangi ketaatan.


2. Ketaatan sering butuh pengorbanan emosional

Iman bukan berarti tidak punya perasaan. Nabi Ibrahim sangat mencintai putranya. Tetapi beliau mendahulukan perintah Allah di atas rasa itu.

3. Kesungguhan dalam melaksanakan perintah Allah

Ayat tersebut memakai kata:

فَلَمَّا أَسْلَمَا
“Ketika keduanya telah berserah diri.”

Artinya: Ibrahim dan Ismail menyerahkan dirinya kepada perintah Allah. Ini menunjukkan ketaatan total dari hamba Allah

Ada sebuah kaidah yang bagus
                                                    سدّ الذرائع إلى المعصية أو إلى ترك الطاعة
                “Menutup jalan yang bisa membawa kepada maksiat atau menghalangi ketaatan.”
Kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail ini bisa menjadi contoh nyata, bahwa dalam menjalankan ketaatan tidak hanya ketaatannya saja yang dikejar, namun juga menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa melemahkan ketaatan.

Allahu a'lam

Batang, 12 Maret 2026/ 23 Ramadan 1447
Kamar Jaga IGD RS QIM



Ulul Albab


Sumber
Buku Mendulang Mutiara Faedah dari Kisah Para Nabi & Rasul karya Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc.,MA.,
HR. Al Hakim 1713
https://muslim.or.id/22744-hikmah-melempar-jumrah-adalah-melempar-setan.html


Comments

Popular posts from this blog

Ujian dan Pertolongan Allah itu Pasti

Kesombongan Menghalangi Petunjuk dan Susahnya Bersabar dengan Orang-orang Shalih

Diskusi Bapak dan Anak

Cukup dengan Iman (Pelajaran dari Jabir bin Abdullah)