Di Balik Panggilan dan Seruan (Kisah Perang Hunain Bagian 2)
Sesudah pasukan muslimin terkocar kacir karena serang musuh yang tiba-tiba, Rasulullah yang melihat itu tidak membuat beliau ikutan mundur, Rasulullah tetap tegak berdiri bersama sahabatnya yang setia (dalam riwayat ada 12 orang) yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthallib, Fadhal bin Abbas, Abu Sufyan bin Harist dan anaknya (Ja'far), Rabiah bin Harits, Usamah bin Zaid, Aiman bin Ummu Aiman, dan Muktib bin Abu Lahab.
Rasulullah dengan tekad maju ke depan dengan bighalnya seraya dipegangi oleh Abbas bin Abdul Muthallib dan Abu Sufyan bin Harist, dan bersabda
أين يا عباد الله ؟ إلي أنا رسول الله
“Ke mana kalian, wahai hamba-hamba Allah? Kembalilah kepadaku, aku adalah Rasulullah.”
أنا النبي لا كذب
أنا ابن عبد المطلب
“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra ‘Abdul Muthallib"
Begitulah seruan Rasulullah ketika melihat pasukan yang mundur. Ketika puncak puncaknya peperangan, Rasulullah meminta Abbas bin Abdul Muthallib untuk berseru dan berteriak kepada pasukan muslimin, Abbas lantas berseru
يا أصحاب الشجرة (Wahai para pemilik pohon! >> peristiwa Baiatur Ridwan)
يا أصحاب السمرة (“Wahai para pemilik pohon samurah!”)
يا أصحاب سورة البقرة (Wahai para pemilik Surah Al-Baqarah!”)
Seruan itu diulang berkali kali, membuat pasukan muslimin mengingat akan janji janjinya di masa lalu.
Kaum Anshar mengingat sumpah mereka akan menjadi pelindung dan penolong nabi ketika peristiwa Aqabah. Kaum Muhajirin dan Anshar juga mengingat sumpah setia mereka di bawah pohon samurah pada peristiwa baiatur Ridwan 2 tahun sebelum perang Hunain terjadi. Begitu pula kaum Muslimin diingatkan akan panjangnya perjalanan dan perjuangan mereka bersama Rasulullah dengan disebutkan ashhabu suratil baqarah.
Seketika pasukan Muslimin langsung menyambut seruan tersebut dengan يا لبيك ، يا لبيك; berbalik kepada Rasulullah, bahkan ada di antara mereka yang, jika untanya tidak mau berbalik arah, ia mengenakan baju besinya, lalu turun dari untanya, melepaskannya, dan ia sendiri berlari kembali menuju Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ kemudian mengatur barisan mereka, lalu terjadilah pertempuran sengit. Bani Hawazin dan Tsaqif yang melihat keberanian pasukan muslimin membuat mereka patah semangat dan membuat para pemimpinnya melarikan diri tanpa memperdulikan hewan ternak, harta benda mereka, anak anak, dan istri istri mereka. Pasukan muslimin mengejar mereka sampai akhirnya mereka terpecah menjadi 3 kelompok ada yang ke Nakhlah, ke Authasm dan ke Thaif (yang nanti akan di perang Thaif). Maka berakhirlah pertempuran di kaki bukit Hunain dengan kemenangan gemilang bagi pasukan muslimin.
Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 26
ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar menjelaskan
ثُمَّ أَنزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ (Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman)
Yakni Allah menurunkan apa yang menenangkan mereka agar ketakutan mereka hilang sehingga mereka mendapatkan keberanian untuk berperang melawan orang-orang musyrik. Yang dimaksud adalah mereka yang tetap teguh dalam perang dan kembali masuk ke medan perang setelah mereka mundur, yakni orang-orang Anshar.
وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا(dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya)
Yakni para malaikat.
وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ( dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir)
Dengan kerugian korban jiwa, penawanan, harta yang dirampas, dan penyandraan keturunan yang menimpa mereka.
Penulis teringat penjelasan ustadz Budi Ashari tentang
- Alasan kenapa Rasulullah menggunakan penegasan أنا ابن عبد المطلب (Aku adalah putra ‘Abdul Muthallib), karena terkadang penegasan nasab dan hubungan tokoh juga bisa membuat semangat orang lain muncul kembali.
- Ketika Abbas bin Abdul Muthallib menyeru dengan sebutan sebauh kejadian, karena kejadian itu terkenang oleh para pasukan muslimin dan mengingatkan mereka akan perjuangan mereka sebelumnya terutama janji mereka.
- Kalau panggilan untuk menyatukan kaum muslimin adalah dengan memanggil dengan panggilan ukhrawi yaitu dengan perjuangan mereka sebelumnya.
- Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul itu ada 2 macam, yaitu keyakinan kaum muslimin akan kembali ke medan perang dan ketenangan hadir akan pertolongan Allah (optimisme Rasulullah); sementara ketenangan Mu'minin adalah munculnya lagi keberanian mereka.
Pada tulisan sebelumnya, ada juga kisah di mana Rasulullah ketika mendapat laporan dari Abdullah bin Abi Hadrad bawah bala tentara Hawazin berkumpul bersama para perempuan dan anak anak serta binatang ternak di Hunain, Rasulullah bersabda "Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah" (lebih lengkapnya baca di sini ), ini mengajarkan akan pentingnya optimisme. Sepanjang kehidupan Rasulullah ﷺ dipenuhi dengan optimisme. Dalam kondisi apa pun, beliau selalu melihat dari sisi yang membawa harapan. Beliau tidak terpengaruh oleh kumpulan pasukan Tsaqīf, bahkan mengucapkan kata-kata optimis yang didengar oleh para sahabat radhiyallāhu ‘anhum. Ucapan itu membangkitkan harapan, menyemangati jiwa, dan meneguhkan hati.
Sebab jiwa manusia, ketika diingatkan pada kekuatan dan jumlah besar musuh, bisa saja merasa gentar. Namun ketika diberi harapan tentang kemenangan dan ganimah yang besar, maka ia akan berani dan maju. Apalagi ketika gambaran tentang harta rampasan itu seakan-akan sudah tampak di depan mata.
Baik selesailah seri kita kali ini wkwkw, Allahu A'lam
Batang, 23 Februari 2026/ 6 Ramadan 1447
Kamar Dokter Jaga ICU RSUD Batang
Ulul Albab
Sumber
Buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 3 karya KH Moenawar Chalil
https://rumaysho.com/41018-perang-hunain-ketika-jumlah-besar-tidak-menjamin-kemenangan.html
Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir >> https://tafsirweb.com/3042-surat-at-taubah-ayat-26.html
Kajian Ustadz Budi Ashari (sini )

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....