Berhati Hati dalam Berbangga Diri (Kisah Perang Hunain Bagian 1)
Setelah terjadinya Fathu Makkah, Rasulullah dan muslimin berdiam diri di Makkah kurang lebih selama 15 hari, beliau menyelesaikan beberapa urusan di sana. Beliau mendengar berita bahwa beberapa kabila Arab berencana memerangi muslimin seperti kabil Tsaqif, Hawazin dan lainnya, yang mereka berkumpul untuk menuju lembah Hunain kurang lebih 15 km timur laut kota Makkah. Mereka berjumlah kurang lebih duapuluh sampai tigapuluh ribu pasukan.
Menyikapi hal tersebut, Rasulullah mengumpulkan semua pasukan muslimin yang terdiri dari 12ribu personil, 10ribu personil dari Makkah dan 2ribu personil dari penduduk Mekkah yang baru saja masuk Islam, serta da sukarelawan dari kaum musyrikin Quraisy yang belum memeluk Islam sejumlah 80 pasukan termasuk Shafwan bin Umayyah.
Pada tanggal 6 Syawwal 8 Hijriyah, berangkatlah Rasulullah bersama pasukan ke lembah Hunain, dengan formasi barisan pejalan kaki diikuti barisan berkuda dan diiringi barisan unta yang sangat banyak. Sampai sampai masing masing rommbongan terlihat berbangga melihat hal itu, gembira akan jumlah yang sangat banyak, hingga ada sebagian mengatakan kepada yang lain "Kita yakin bahwa kemenangan pasti jatuh di tangan kita dan pihak musuh tidak akan dapat mengalahkan kita". Mereka yang berkata demikian karena baru sekali itu melihat tentara islam dengan jumlah begitu besar dan perlengkapan senjata begitu lengkap.
Rasulullah yang mendengar ucapan itu begitu tidak menyukai perkataan tersebut.
Sampailah di dekat medan pertempuran, Rasulullah membagi pasukan, pasukan muhajirin menjadi tiga di bawah Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, dan Saad bin Abi Waqqash; kaum Ansahar dibagi menjadi dibawah Usaid bin Hudhair, Habbab bin Munzir, dan Saad bin Ubadah. Rasulullah mendapat laporan dari Abdullah bin Abi Hadrad bawah bala tentara Hawazin berkumpul bersama para perempuan dan anak anak serta binatang ternak di Hunain, Rasulullah bersabda "Itu adalah harta rampasan kaum muslimin esok hari, insya Allah".
Pada kesempatan itu pula beberapa kaum muslimin yang baru saja memeluk islam melihat pohon bidara dan mereka berkata kepada Rasulullah “Jadikanlah untuk kami dzātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki dzātu anwāṭ,” Rasulullah langsung bersabda "Allāhu akbar! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan kaum Musa.”
آ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)“.” (QS. Al-A‘rāf: 138)
Rasulullah ﷺ melanjutkan, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian setahap demi setahap.”
Oke balik ke peperangan, singkatnya ketika matahari belum tenggelam, kaum muslimin sudah sampai di jalan masuk lembah Hunain, namun karena di sana banyak gunung yang serupa hingga susah untuk dibedakan dan sukar untuk diketahui di mana musuh sudah bersarang, maka muslimin berencana memetakan besok setelah Fajar menyingsing, namun tanpa mereka sadari bahwa tentara musuh juga bersarang di sana.
Esoknya pasukan Khalid bin Walid dan Bani Sulaim diberangkatkan dahulu sebagai pelopor, diikuti kaum Muhajirin dan Anshar, barulah rombongan Rasulullah. Sampailah mereka di salah satu bukit di Gunung Tihamah (dalam kondisi masih gelap), mereka disergap oleh pasukan musuh yang sudah bersembunyi di gua gua yang berada di lereng bukit tersebut. Serangan mendadak ini langsung membuat kaum muslimin kocar kacir, semua lari tunggang langgang tidak berbenturan lagi. Dari segala penjuru, muslimin dihujani banyak anak panah oleh musuh, sehingga jumlah besar yang mereka bangga-banggakan sebelum itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun dan tidak dapat membangkitkan semangat mereka untuk bertahan dan bertempur.
Barisan terdepan tadi yang juga terdiri atas orang orang Mekkah yang baru masuk Islam dan sebagian belum masuk Islam ketika mereka menerima serangan tersebut yang sangat mendadak, langsung melarikan diri dan sebagian lari ke belakang. Dengan kejadian itu membuat barisan tentara yang di belakangnya menjadi semakin kacau, sedangkan musuh terus maju dan mengejar.
Rasulullah melihat kondisi ini, tidak membuat beliau menjadi mundur, Rasulullah tetap tegak berdiri bersama sahabatnya yang setia (dalam riwayat ada 12 orang) yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthallib, Fadhal bin Abbas, Abu Sufyan bin Harist dan anaknya (Ja'far), Rabiah bin Harits, Usamah bin Zaid, Aiman bin Ummu Aiman, dan Muktib bin Abu Lahab. (Untuk kisah perang Hunain selanjutnya kita sambung lain waktu, insyaAllah)
Pada kisah ini sejalan dengan yang difirmankan Allah dalam surat At Taubah ayat 25
لَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar menjelaskan
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ (Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain)
Yakni dan Allah telah menolong kalian di perang Hunain.
إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ(yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu))
Adapun sebelum perang Hunain, jumlah kaum muslimin cukup sedikit, sehingga jumlah mereka tidak menjadikan mereka angkuh.
Hunain adalah nama sebuah lembah yang berada diantara kota Makkah dan Thaif. Di sana Rasulullah bersama kaum muslimin bertemu dengan pasukan orang-orang kafir dari Hawazin dan Thaif. Jumlah kaum muslimin ketika itu adalah 12.000 pasukan, sebagian dari mereka berkata: “kita tidak akan terkalahkan karena jumlah yang sedikit”. Namun mereka kemudian mengalami kekalahan, katika itu Rasulullah tetap teguh dalam peperangan bersama sedikit pasukan kaum muslimin, diantaranya Abu Bakar, Umar bin Khattab, paman beliau Abbas, dan Abu Sufyan bin Harist. Setelah itu pasukan muslimin kembali masuk ke medan perang sehingga mereka dapat meraih kemenangan dan kejayaan.
وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ (dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu)
Maksudnya bahwa meskipun bumi merupakan tempat yang luas namun menjadi sempit bagi mereka karena ketakutan dan kekhawatiran.
ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ(kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai)
Yakni kalian kalah dan melarikan diri kebelakang menjauhi musuh.
Bayangkan, hanya karena ucapan sebagian muslimin, membuat kaum muslimin lain jadi terberai karena terbuai akan jumlah.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan akan perkara ini
1️⃣ Ucapan satu orang saja, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sirah, bisa menjadi sebab datangnya musibah besar yang menimpa seluruh pasukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya waspada agar tidak mendatangkan bencana bagi komunitasnya atau keluarganya akibat keburukan yang muncul dari perbuatannya atau ucapannya.
2️⃣Meskipun hanya satu kalimat, namun dengan sebab itulah bencana terjadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ»
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata, yang ia tidak memperhatikan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam neraka sejauh jarak antara timur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3️⃣Ini menunjukkan kelemahan tabiat manusia dan cepatnya ia tertipu oleh rasa bangga. Seseorang bisa saja, ketika melihat banyaknya jumlah pasukan, merasa kagum, tertipu oleh kekuatan semu itu, lalu membesarkan dirinya dan merasa yakin akan kemenangan. Ia pun mengucapkan kalimat tersebut, yang muncul dari kelemahan manusiawi yang kadang menimpa seorang hamba dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak selalu menghadirkan rasa takwa kepada Allah, pengawasan-Nya, ketundukan kepada-Nya, serta kesadaran atas nikmat-nikmat-Nya.
4️⃣Besarnya bahaya perkara ini, karena berkaitan langsung dengan akidah. Seorang muslim, di antara bentuk ibadah terbesar yang ia lakukan, adalah tunduk kepada Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada dari kelalaian dalam hal ini. Hendaknya ia menyadari bahwa rasa ujub (bangga diri) dan masuknya kesombongan ke dalam hati termasuk dosa-dosa besar yang dapat membinasakan.
5️⃣Besarnya bahaya perkara ini juga ditunjukkan oleh hukuman yang terjadi secara langsung, serta ayat-ayat yang turun untuk menegur umat agar mereka mengambil pelajaran untuk masa depan mereka. Karena itu, ucapan semacam ini tidak boleh dianggap remeh. Abu Bakar al-Jazā’irī rahimahullah berkata dalam penjelasannya: “Haramnya merasa kagum terhadap diri sendiri, terhadap amal, atau terhadap kekuatan. Sebab, akibat dari sikap tersebut adalah kekalahan kaum mukminin pada awal pertempuran mereka melawan musuh.”
6️⃣Pada peristiwa ini juga terdapat pelajaran akidah yang sangat penting. Jika Perang Badar telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang sedikit tidak membahayakan mereka di hadapan musuh-musuh mereka apabila mereka bersabar, bertakwa, dan hati mereka bergantung kepada Allah Ta’ala, maka Perang Hunain menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat sedikit pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah Ta’ala. Perang Hunain telah menetapkan bagi kaum muslimin bahwa jumlah yang banyak pun tidak akan memberi manfaat apa pun, apabila hati mereka tidak bergantung kepada Allah.
Maka marilah kita selalu bertawakal kepada Allah dan menghindari dari ucapan ujub.
Batang, 22 Februari 2026/ 5 Ramadan 1447 H
Rumah Tercinta
Ulul Albab
Sumber
Buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 3 karya KH Moenawar Chalil
https://rumaysho.com/41018-perang-hunain-ketika-jumlah-besar-tidak-menjamin-kemenangan.html
Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir >> Referensi: https://tafsirweb.com/3041-surat-at-taubah-ayat-25.html

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....