Jagalah Amanah dan Bertaubatlah Segera


Pada pengepungan Bani Quraidzah yang dilaksanakan Rasulullah beserta kaum muslimin setelah perang Ahzab dikarenakan pengkhianatan mereka, Rasulullah memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk ikut mengepung benteng Bani Quraidzah. Melihat hal itu, bani Quraidzah sadar mereka tidak akan mampu menghadapi kaum muslimin dan mereka tidak mampu bertahan lama dalam bentengnya. Sebelumnya mereka menolak saran Kaab bin Asad yang mengatakan 

  1. Mengikuti Muhammad SAW (Beriman)
    Ka'ab mengajak kaumnya untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW dan masuk Islam. Ia beralasan bahwa mereka telah melihat tanda-tanda kenabian pada diri beliau dan janji-janji dalam kitab mereka (Taurat) terbukti. Namun, usulan ini ditolak oleh mayoritas Bani Quraizhah.
  2. Membunuh Keluarga dan Menyerang Muhammad SAW
    Ka'ab menyarankan agar mereka membunuh istri dan anak-anak mereka sendiri, lalu keluar menyerang pasukan Muslimin dengan gagah berani hingga menang atau mati syahid. Jika kalah, setidaknya tidak ada beban keluarga yang ditawan. Ini juga ditolak karena rasa cinta pada keluarga.
  3. Menyerang di Hari Sabat (Sabtu)
    Saran terakhir adalah memanfaatkan hari Sabat, di mana kaum Muslimin mengira Bani Quraizhah tidak akan berperang (karena pantangan bagi Yahudi), untuk melakukan serangan mendadak. Opsi ini pun ditolak.
Akhirnya mereka mengadakan rapat sendiri dengan keputusan untuk mengirimkan seorang utusan kepada Nabi guna memohonkan kemurahan hari beliau mengirimkan Abu Lubabah untuk ke benteng Bani Quraidzah guna meminta pertimbangan kepadanya. Abu Lubabah merupakan sahabat Nabi yang berasal dari bani Aus yang dulu sewaktu jahiliyah melakukan perjanjian tolong menolong dengan bani Quraidzah. 

Sesampainya Abu Lubabah di benteng bani Quraidzah, ia disambut dengan penghormatan yang luar biasa, segenap anggota bani Quraidzah berdiri lalu menangis, meratap, dan berteriak meminta tolong kepadanya. Mereka berkata " Ya Abu Lubabah, apakah engkau menyetujui jika kami sekarang meminta keputusan kepada Muhammad, karena kondisi kami sudah sedemikian rupa?" 

"Ya saya menyetujuinya" jawab Abu Lubabah seraya jarinya menunjuk tenggorokannya sendiri, yang berarti dipenggal batang lehernya. Artinya jika tidak, nanti kalian dibunuh semua. Sehingga bani Quraidzah memilih untuk mengambil keputusan untuk tunduk dan menyerah kepada Nabi dan menerima keputusan beliau.

Beberapa saat itu, Abu Lubabah langsung menyadari kesalahan dan kekhilafannya, dia sangat menyesal dengan perbuatannya itu, dia berkata "Demi Allah, belum lagi dua tapak kaki saya pindah dari tempatnya, saya telah mengerti bahwa saya telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya"

Abu Lubabah langsung kembali ke Madinah, ia tidak berani menghadap Rasulullah karena sangat malu, sesampainya di masjid Nabawi, dia langsung mengikatkan diri pada salah satu tiang masjid seraya berkata "Jangan ada seseorang melepaskan ikatan saya selain pada waktu shalat dan pada waktu saya berhajat. Saya tidak akan pergi dari tempat ini, melainkan jika Allah menerima taubat dari segala kesalahan yang telah saay lakukan. Saya juga berjanji kepada Allah bahwa saya tidak akan menginjakkan di bumi bani Quraidzah selama lamanya, dan saya tidak akan melihat negeri yang menjadikan saya berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya selama lamanya."

Disebutkan pula rasulullah ketika mendengar hal itu bersabda "Sungguh andaikan dia datang kepadaku, niscaya aku memohonkan ampun baginya, tetapi lantaran dia telah berbuat apa yang telah ia perbuat, maka aku tidak akan melepaskannya dari tempat itu sehingga ia diberi tobat oleh Allah" 

Sebagian riwayat (yang ditulis KH Moenawar Chalil) menyebutkan setelah enam hari enam malam kejadian itu, Allah berfirman (at Taubah 102)

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Ayat ini diterima Nabi ketika tengah malam, kemudian diberitahukan je Ummi Salamah, dan diberitahukan kepada Abu Lubabah akan kabar gembira ini. Abu Lubabah tetap tidak mau melepaskan dirinya dari ikatan hingga dilepaskan oleh Nabi Muhammad sendiri.

Dari kisah Abu Lubabah, penulis bisa mengambil kesimpulan bahwa seorang Sahabat memberi teladan yang teladan tentang menjaga amanah
1️⃣ Sensitivitas Hati
Beliau langsung sadar kesalahan, tanpa pembelaan diri.

2️⃣ Tidak Menunda Taubat
Tidak menyalahkan situasi. Tidak mencari pembenaran.

3️⃣ Konsekuensi Moral
Beliau bahkan menyedekahkan sebagian hartanya setelah itu sebagai bentuk penyesalan.

4️⃣ Resilience Spiritual
Kesalahan bukan akhir, tapi titik balik menuju kedewasaan iman.

5️⃣ Kesalahan Tidak Selalu karena Niat Jahat
Abu Lubabah tidak berniat khianat. Beliau hanya tergerak emosi; simpati pada anak-anak & keluarga; refleks memberi isyarat; namun efeknya besar.

6️⃣ Accountability Tanpa Dipaksa
Tidak ada investigasi; tidak ada audit; tidak ada teguran publik.
Beliau sendiri yang menghukum dirinya. Dalam etika medis modern:

7️⃣ Reparative Action
Setelah taubat diterima, Abu Lubabah: Menyedekahkan sebagian hartanya; Ingin memperbaiki kesalahannya

Semoga Allah memberi kemudahan untuk menjaga amanah apapun itu dan meneladani akan hal itu.

Batang, 26 Februari 2026/9 Ramadan 1447
Kamar Dokter Jaga IGD RS QIM


Ulul Albab

Sumber 
Buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 3 karya KH Moenawar Chalil
https://muslimahdaily.com/story/hikmah/6293-kisah-mengharukan-abu-lubabah-sahabat-rasul-yang-berkhianat.html

Comments

Popular posts from this blog

Keteladanan yang Utama

Kalau Sakit, Boleh Tidak Puasa?

Berhati Hati dalam Berbangga Diri (Kisah Perang Hunain Bagian 1)

Tentang Prioritas

Hati-Hati akan Dzalim