Satu Diterima, Satunya Ditolak



Ketika membaca al quran surat Yunus sampai di halaman 219-220 kita akan mendapat dua kisah bagus, pertama kisah taubatnya seseorang namun ditolak dan ada pula diterima

Pada ayat 90-91
۞ وَجَاوَزۡنَا بِبَنِىۡۤ اِسۡرَآءِيۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبـَعَهُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَجُنُوۡدُهٗ بَغۡيًا وَّعَدۡوًا​ ؕ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَدۡرَكَهُ الۡغَرَقُ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِىۡۤ اٰمَنَتۡ بِهٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِيۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ‏ ٩٠
آٰلۡــٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِيۡنَ‏ ٩١
yang berarti :
Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berkata, "Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)."
Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.

Syeikh Abdurrahman As Sa'di menjelaskan dalam tafsirnya
Allah memerintahkan Musa agar membawa Bani Israil pergi di waktu malam. Allah mengabarkan bahwa mereka akan mengikutinya. Firaun membuat pengumuman di seluruh penjuru negeri bahwa "mereka itu –Musa dan kaumnya- hanyalah segelintir orang pinggiran. Mereka marah kepada kami dan kita mewaspadai mereka."
Firaun mengumpulkan bala tentaranya dari atasan sampai bawahan. Dia dengan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan kesombongan dan permusuhan, mereka hendak menangkap Musa dan membuat kerusakan di muka bumi. Jika kekejian telah memuncak dan dosa telah menguat maka tunggulah azab dari Allah. 
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut.” Hal itu karena Allah mewahyukan kepada Musa tatkala dia sampai di laut agar memukul laut dengan tongkatnya. Musa memukulnya, maka terbelahlah dua jalan, Bani Israil melaluinya, Firaun terus menguntit dengan bala tentaranya di belakangnya. 
Ketika Musa dan kaumnya telah sampai di daratan ujung sedangkan Firaun dengan bala tentaranya masih di tengah laut, maka Allah memerintahkan kepada laut untuk menelan Firaun dan bala tentaranya. 
Mereka tenggelam dengan dilihat oleh Bani Israil. Manakala Firaun tenggelam dan dia yakin akan mati, “berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan (Rabb) yang dipercayai oleh Bani Israil’.” Yaitu Allah Rabb Yang Mahabenar, yang tiada Rabb melainkan Dia, “dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Yakni tunduk kepada agama Allah dan ajaran yang dibawa Musa.

Begitu pula beliau menjelaskan
Allah berfirman menjelaskan bahwa iman dalam kondisi seperti ini tidaklah berguna baginya. “Apakah sekarang (baru kamu percaya)”, beriman dan mengakui Rasul Allah, “padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu.” Maksudnya, kamu terang-terangan bermaksiat, mengingkari dan mendustakan,
 “dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” iman tidak berguna bagimu sebagaimana Sunnatullah yang berlaku bahwa jika orang kafir telah sampai pada keadaan darurat ini, maka imannya tidak berguna baginya karena imannya adalah iman kepada sesuatu yang terlihat sebagaimana iman orang pada saat Kiamat tiba. 
Iman yang berguna itu adalah iman kepada yang ghaib.

Pada taubatnya Fir'aun ditolak karena

🔹 1. Taubat saat sakarat (gharar maut)

Sudah melihat kematian secara pasti → bukan lagi iman kepada yang ghaib.

🔹 2. Terpaksa, bukan pilihan hati

Imannya lahir karena panik, bukan kesadaran ruhani.

🔹 3. Datang setelah pintu ujian tertutup

Seperti orang yang melihat neraka lalu baru percaya.

Menurut Ibnu Katsir:

🔹 Ini disebut iman al-ya’s (iman karena putus asa)
🔹 Ia sudah melihat kematian secara nyata
🔹 Itu bukan lagi iman kepada yang ghaib

Beliau mengaitkan dengan hadits Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR Tirmidzi)

Begitu pula diperkuat dengan Surah Ghafir 84–85

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ...
فَلَمْ يَكُ يَنفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا

“Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman…’ Tetapi iman mereka tidak bermanfaat setelah mereka melihat azab Kami.” 


Kemudian bila kita sampai pada ayat 98, tibalah kita pada kisah kaum nabi Yunus 

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar menjelaskan dalam Zabatut Tasfir Min Fathil Qadir 
 فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمٰنُهَآ (Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya)
Tidak adakah penduduk dari salah satu kota yang telah kami binasakan beriman dengan iman yang sebenarnya, yaitu dengan keimanan yang ikhlas kepada Allah sebelum mereka menyaksikan azab-Nya, dan tidak menunda-nundanya sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun.

إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ(selain kaum Yunus)
Yakni, akan tetapi kaum Nabi Yunus.

لَمَّآ ءَامَنُوا۟ (Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman)
Dengan keimanan yang sebenarnya sebelum mereka menyaksikan azab.

كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْىِ (Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan)
Yakni azab yang pernah diancamkan oleh nabi Yunus kepada mereka, bahwa mereka akan ditimpakan kepada mereka, namun mereka belum melihat azab itu dan baru sekedar melihat tanda-tandanya saja.

وَمَتَّعْنٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ (dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu)
Yakni setelah azab itu dihindarkan dari mereka.
Imam Qatadah berpendapat tentang ayat ini: azab yang dihindarkan ini belum pernah terjadi pada umat-umat sebelum umat Nabi Yunus, tidak ada suatu negeripun yang kafir kemudian beriman setelah melihat azab mendapat manfaat dari keimanannya. Namun Allah mengecualikan umat Nabi Yunus yang tinggal di kota Nainawa di negeri Mushil, setelah mereka kehilangan Nabi mereka, Allah mengilhamkan pertaubatan kedalam hati mereka, kemudian mereka mengenakan pakaian using (untuk mengungkapkan pertaubatan mereka) dan mengeluarkan hewan-hewan ternak, dan mememisahkan antara hewan ternak dari anaknya, lalu mereka berdoa kepada Allah dengan mengangkat suara mereka selama empat puluh hari. Setelah Allah mendapati kejujuran hati mereka dalam bertaubat dan menyesal atas perbuatan yang telah mereka lakukan, Allah menghindarkan dari mereka azab setelah azab itu hampir-hampir turun kepada mereka.

Pada kisah kaum Nabi Yunus, tabuat mereka ditermima karena

🔹 1. Taubat sebelum azab benar-benar turun

Mereka baru melihat tanda-tandanya.

🔹 2. Taubat kolektif & total

Kaum Nabi Yunus melakukan

  • Menangis & merendahkan diri
  • Mengembalikan kezaliman

🔹 3. Iman yang disertai perubahan nyata



Nah dari 2 kisah ini ada sebuah kajian psikologis yang bisa diambil

1️⃣ Psikologi Taubat Fir’aun

(Repentance Under Acute Threat)

📍 Kondisi Saat itu

Fir’aun tenggelam.
Hipoksia.
Disorientasi.
Ancaman kematian pasti.

Dalam psikologi dan neurobiologi:

🔥 A. Survival Mode Activation

  • Aktivasi sistem simpatis ekstrem

  • Lonjakan adrenalin & kortisol

  • Otak rasional (prefrontal cortex) menurun fungsinya

  • Amygdala dominan (fear center)

➡ Respons ini disebut panic-driven cognition.

Keputusan yang muncul:

  • Bukan hasil refleksi moral

  • Tapi refleks bertahan hidup


🔎 B. Fear-Based Compliance

Dalam psikologi perilaku:
Seseorang bisa “mengaku” atau “patuh”
bukan karena yakin,
tapi karena takut konsekuensi.

Fir’aun:

  • Tidak pernah menunjukkan remorse sebelumnya

  • Mengaku tuhan

  • Taubat muncul saat kontrol hilang

Ini bukan moral awakening.
Ini survival confession.


⛔ Kenapa secara syariat ditolak?

Karena:

  • Ujian iman sudah selesai

  • Ia sudah melihat kepastian azab

  • Tidak ada lagi unsur “percaya pada yang ghaib”


Sedangkan pada kisah kaum Nabi Yunus

🌿 2️⃣ Psikologi Taubat Kaum Yunus

(Collective Moral Awakening)

Berbeda total.

📍 Kondisi

  • Azab belum turun

  • Masih ada ruang waktu

  • Masih ada pilihan


🌱 A. Collective Guilt & Awareness

Dalam psikologi sosial:

Ketika satu komunitas sadar akan kesalahan kolektif,
terjadi:

  • Shared guilt

  • Shared responsibility

  • Emotional contagion (emosi menyebar)

Ini memicu:
➡ Taubat kolektif


🌱 B. Cognitive Repentance

Mereka:

  • Keluar ke padang

  • Menangis

  • Memisahkan ibu dan anak (untuk memicu empati)

  • Mengembalikan kezaliman

Ini menunjukkan:
✔ Refleksi sadar
✔ Pengakuan salah
✔ Perubahan perilaku nyata

Dalam psikologi modern:
Ini disebut transformational repentance
(taubat yang mengubah struktur moral seseorang)

Maka dari itu, mari kita melihat tanda tanda yang sudah diturunkan Allah, bertaubat sebelum datangnya maut
Allahu a'lam

Batang, 24 Februari 2026/ & Ramadan 1447
Klinik Assyifa Batang


Ulul Albab

Sumber
Tafsir Zabatut Tasfir Min Fathil Qadir >> Referensi: https://tafsirweb.com/3372-surat-yunus-ayat-98.html
Tafsir As Sa'di >> Referensi: https://tafsirweb.com/3365-surat-yunus-ayat-91.html
Tafsir As Sa'di >> Referensi: https://tafsirweb.com/3364-surat-yunus-ayat-90.html
Buku Mendulang Mutiara Faedah dari Kisah Para Nabi dan Rasul karya Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.

Comments

Popular posts from this blog

Tutupilah Celah Maksiat dan Penghalang Ketaatan

Teladan Cara Berdakwah dari Saudaranya Fir'aun

Sekali Lagi Tentang Bersabar

Diskusi Bapak dan Anak

Perkecambahan Tanaman