Allah yang Cukupkan
Ada sebuah surat yang menjadi salah satu favorit penulis, yaitu surat an Najm. Sampailah pada ayat 43-45 dan 48, Allah memberikan dua perbandingan pada setiap ayatnya yang kelihatannya berlawananan.
1️⃣ Ayat 43 — Allah yang membuat manusia tertawa dan menangis
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan Dialah yang menjadikan manusia tertawa dan menangis.”
-
kegembiraan manusia berasal dari Allah
-
kesedihan juga berada dalam kehendak Allah
Hikmah:
Kadang manusia merasa dirinya yang membuat bahagia, padahal sebenarnya Allah yang menciptakan rasa itu di dalam hati.
2️⃣ Ayat 44 — Allah yang mematikan dan menghidupkan
وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا
-
Allah yang menentukan kematian
-
Allah yang memberi kehidupan
Tidak ada makhluk yang mampu menahan kematian ketika waktunya tiba.
3️⃣ Ayat 45 — Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى
-
Allah yang menentukan jenis manusia, laki-laki dan perempuan adalah ciptaan-Nya
Ini menunjukkan kesempurnaan penciptaan Allah.
4️⃣ Ayat 48 — Allah yang memberi kaya dan cukup
وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى
Allah memberi kekayaan
-
Allah memberi kecukupan hati
Ada orang yang diberi harta banyak, ada juga yang diberi ketenangan dan rasa cukup.
Yang membuat penulis sangat terkesan adalah ayat terakhir tersebut, jadi di ayat ini Allah memberikan penegasan bahwa Allah itu memberi manusia itu kaya dan cukup, tergantung tingkat kesyukuran manusia tersebut. Syaikh Abdurrahman as Sa'di menjelaskan dalam tafsirnya Allah memberi kecukupan pada manusia dengan cara memberi kemudahan dalam penghidupan yang bersumber dari perdagangan dan berbagai jenis pekerjaan lain, “dan memberikan kecukupan,” artinya memberi manfaat pada para hamb-aNya dari berbagai jenis harta sehingga dengan harta itu mereka dapat memiliki berbagai macam benda dan ini merupakan salah saru rahmatNya. Allah memberitahukan bahwa seluruh nikmat berasal dari-Nya dan hal ini mengharuskan manusia untuk bersyukur pada-Nya dan menyembah-Nya semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
Suatu malam seorang lelaki kaya datang mengadu kepada sahabat Nabi yang mulia, Abdullah ibn Masud.
Orang itu berkata dengan wajah penuh kegelisahan: “Wahai Ibn Mas’ud, aku memiliki banyak harta, tetapi aku tidak bisa tidur dengan tenang.”
Ibnu Mas’ud bertanya: “Mengapa?”
Orang itu menjawab: Aku takut hartanya berkurang, khawatir perdagangannya rugi, cemas jika ada orang yang mencuri hartanya, memikirkan hartanya siang dan malam
Ibnu Mas’ud kemudian berkata dengan kalimat yang sangat dalam: “Engkau telah menjadikan hartamu sebagai tuan, sedangkan engkau menjadi pelayannya.”
Lalu beliau menasihatinya: “Gunakan hartamu untuk kebaikan dan sedekah, karena harta yang engkau simpan bisa membuatmu gelisah, tetapi harta yang engkau keluarkan di jalan Allah akan menenangkan hatimu.”
Mendengar nasihat itu, lelaki tersebut mulai banyak bersedekah, membantu orang lain, tidak terlalu bergantung pada hartanya. Perlahan-lahan ia merasakan ketenangan hati.
Ia berkata kepada Ibnu Mas’ud:
“Sekarang aku memiliki lebih sedikit harta, tetapi aku memiliki lebih banyak ketenangan.”
Hikmah besar dari Kisah Ini
1️⃣ Harta bisa menjadi sumber kecemasan
Semakin banyak harta, kadang semakin banyak kekhawatiran.
2️⃣ Sedekah mengurangi beban hati
Ketika harta digunakan untuk kebaikan, hati menjadi lebih ringan.
3️⃣ Kekayaan sejati adalah ketenangan
Orang yang hatinya tenang sebenarnya lebih kaya.
Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,
قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).
Pada akhir tulisan, penulis mengingat sebuah kisah inspiratif tentang sepasang suami istri yang bekerja hanya guru biasa, tapi mereka memiliki 5 anak. Dengan keyakinan mereka, mereka sanggup mengantarkan anaknya semua kuliah.
Para ulama memberikan nasehat bahwa semua yang diciptkan oleh itu sesuai qadarnya sesuai dengan firman Allah dalam إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ (Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.) (al Qamar 49). Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi menjelaskan bahwa setiap apa yang ada pada kehidupan ini telah ditakdirkan dan ditulis di Lauhul Mahfudz sejak dahulu, dan Allah memberikan kepada makhluk-Nya kewajiban yang dengannya Allah ciptakan mereka.
Ada sebuah hadits yang artinya:
“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits as-Shahihah: 2866).
Akhir yang terakhiiir, maka mari kita selalu berusaha mensyukuri rizki kita, berhenti menengok gaji orang lain, dan selalu beroptimis akan rizki yang akan kita terima dengan kita upayakan juga.
Allahu a'lam
Batang, 16 Maret 2026/27 Ramadan 1447
Rumah Tercinta
Ulul Albab
Sumber
Referensi: https://tafsirweb.com/10287-surat-al-qamar-ayat-49.html
https://tafsirweb.com/10162-surat-an-najm-ayat-48.html
https://www.instagram.com/reel/DOPI9e6CdK8/

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....