Hati Hati dalam Bersahabat
Pada al Furqon 27-29
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا
Dan (ingatlah) pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, "Wahai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul."
"Celaka aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrabku."
"Sungguh dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur'an) setelah peringatan itu datang kepadaku." Dan setan itu memang selalu mengecewakan manusia.
Ayat ini dijelaskan oleh Abdullah bin Abbas berkaitan dengan kisah Uqbah bin Abi Mu'ith.
Pada masa Rasulullah masih berdakwah di Makkah, dikenallah sosok kaum musyrik yang menjadi pembesar kaum Quraisy bernama Uqbah bin Abi Mu’ith. Ia sebenarnya pernah tertarik dengan dakwah Rasulullah ﷺ.
Suatu hari, ia mengundang Nabi makan di rumahnya. Nabi bersabda: “Aku tidak akan makan makananmu sampai engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasul Allah.”
‘Uqbah tidak terima kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang dari pembesar Quraisy tidak menghadiri jamuannya, maka dia memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghadiri undangannya dan memakan jamuannya.
Namun Uqbah memiliki sahabat dekat bernama Ubayy bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang sangat keras memusuhi Islam. “Engkau telah murtad wahai ‘Uqbah?!”
‘Uqbah berkata,”Aku merasa dilecehkan apabila jamuanku tidak dihadiri salah seorang pemuka Quraisy, dia menolak memakan jamuanku kecuali aku mengucapkan syahadat, maka aku merasa malu dan aku pun bersyahadat hingga dia makan.”
Ketika Ubayy mendengar Uqbah telah mengikuti Nabi, ia marah besar dan berkata kira-kira: “Aku tidak akan berbicara denganmu lagi sampai kamu mengingkari Muhammad.”|
Karena takut kehilangan persahabatan dan tekanan sosial, Uqbah akhirnya mengikuti kemauan temannya. Dia mengambil usus binatang lantas melemparkannya ke punggung Nabi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak akan menemuimu di luar Mekah, kecuali aku akan memenggal kepalamu.” Perbuatan ini mengakibatkan ‘Uqbah dan Ubay merugi lagi celaka.
Setelah kejadian ini, membuat Uqbah menjadi musuh besar Islam, bahkan ketika perang Badar, Uqbah merupakan salah satu panglima Qurasy yang tertawan, namun oleh rasulullah Uqbah dihukum mati walau sudah mengaku kalah.
Dari kisah tersebut, penulis jadi ingat betul bahwa memang lingkungan terutama pertemenan dekat itu bisa dengan sangat sekali mempengaruhi diri kita, bahkan bisa ke efek jangka panjang. Beberapa hikmah yang bisa dipetik
1️⃣ Teman bisa menentukan akhir hidup seseorang.
2️⃣ Tekanan sosial bisa membuat orang meninggalkan kebenaran.
3️⃣ Penyesalan di akhirat tidak lagi berguna.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda:
“Seseorang berada di atas agama temannya.” (Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 4833)
Dijelaskan oleh Abdullah ibn Mas'ud
اعْتَبِرُوا النَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ، فَإِنَّ الرَّجُلَ يُخَادِنُ مَنْ يُعْجِبُهُ نَحْوُهُ
“Nilailah seseorang dari teman dekatnya, karena seseorang biasanya berteman dengan orang yang ia kagumi jalannya.”
Maknanya:
-
Jika seseorang dekat dengan orang saleh → biasanya ia condong kepada kebaikan.
-
Jika ia dekat dengan orang buruk → biasanya ia condong kepada keburukan.

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....