Bulan Ramadan memang bulan yang sangat cocok untuk belajar akan kesabaran, dalam hadits disebutkan bahwa "
puasa adalah separuh kesabaran" (HR Tirmidzi). Kali ini penulis ketemu lagi dengan ayat-ayat yang ternyata kisah dibaliknya sangat mengajarkan kesabaran, iya sabar. Sampai sudah beberapa kali penulis mencatatkan tema tentang "sabar" sampai saat ini. Ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa "
Sabar adalah separuh iman", maka bari kita mulai kisah tentang kesabaran berikutnya.
Kali ini, penulis sampai pada juz 26, ada satu surat full yang turun secara penuh setelah terjadinya perjanjian Hudaibiyah, yaitu surat al Fath ayat 1-29. Para ulama menjelaskan bahwa surat ini menjadi jaminan kepada kaum muslimin bahwa kaum muslimin akan memperoleh kemenangan yang nyata dan bahkan melebihi keuntungan yang didapat dari umroh pada tahun tersebut. Bisa dibilang surat ini turun sebagai penawar kekecewaan bagi kaum muslimin yang awalnya kurang puas dengan isi perjanjian Hudaibiyah.
Kejadian ini bermula ketika bulan Zulqa'idah tahun 6 Hijriyah, Nabi Muhammad ﷺ bermimpi bahwa beliau dan para sahabat memasuki Mekah untuk melakukan umrah dengan aman, tidak ada suatu rintangan apapun, bahkan beliau dan para sahabat bisa bertahalul masing masing. Karena mimpi para nabi adalah wahyu, Nabi pun mengajak para sahabat berangkat dari Madinah menuju Mekah. Maka berangkatlah beliau bersama kurang lebih 1400-1500 sahabat dari Madinah menuju Mekah, istri beliau yang menyertai adalah Ummi Salamah. Beliau berangkat mengendarai unta yang bernama al Qushwa dengan berpakaian ihram dan membawa sekitar 70 ekor unta yang telah diberi tanda di lambung kanan yang berarti sebagai tanda hadiah bukan kendaraan perang. Kaum muslimin yang mengikuti dilarang membawa senjata perang melainkan hanya sebilah pedang yang disarungkan.
Ketika rombongan Muslim mendekati Mekah, kaum Quraisy menolak mereka masuk kota. Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abi Jahal yang waktu itu belum masuk islam memimpin sekitar 200 orang untuk bertujuan menghalangi kaum muslimin, mendengar hal ini, rasulullah dan kaum muslimin memilih jalan lain untuk menuju mekah. Tindakan itu membuat Khalid bin Walid segera melapor ke kaum Quraisy di Mekah.
Sampai di daerah "Tsanuyyatul Mirar" unta Rasulullah tiba tiba berhenti dan tidak mau lagi berjalan menuju Mekah. Para sahabat mengira unta itu sakit, namun Rasulullah menjawab “Ia tidak keras kepala. Yang menahannya adalah yang menahan gajah (tentara Abrahah).” Artinya Allah yang menghentikan perjalanan itu, karena ada rencana besar yang akan terjadi.
Singkatnya Rasulullah dan muslimin berhentilah di daerah itu tepatnya di lembah Hudaibiyah dan menerima kunjungan dari utusan kaum Quraisy selama beberapa kali, namun hasilnya nihil, para pembesar Quraisy tetap takut akan kekhawatiran mereka kalau kaum muslimin datang tidak hanya untuk haji dan umroh melaikan juga membasmi mereka. Hingga akhirnya Rasulullah mengirimkan Ustman bin Affan ke Mekah menjelaskan bahwa kaum Muslim hanya ingin umrah, bukan perang. Namun Utsman tertahan cukup lama di Mekah, lalu tersebar kabar bahwa Utsman telah dibunuh oleh Quraisy. Kabar ini membuat kaum Muslim sangat marah, karena membunuh utusan dianggap pelanggaran besar dalam tradisi Arab. Nabi meminta mereka berjanji setia untuk berperang jika diperlukan. Para sahabat pun satu per satu datang dan berbaiat kepada Nabi. Peristiwa ini dinamakan Baiatur Ridwan, yang berisi : tidak akan lari dari medan perang, siap menghadapi Quraisy, setia kepada Nabi sampai mati.
Ternyata Utsman bisa kembali ke rombongan kaum muslimin dengan selamat tidak dibunuh. Kepulangan Utsman juga diikuti dengan datangnya Suhail bin Amr (sosok yang terkenal sebagai duta diplomasi Quraisy). Ketika Nabi melihatnya datang, beliau berkata: “Urusan kalian telah dimudahkan.” Karena nama Suhail berarti kemudahan. Nabi memerintahkan Ali ibn Abi Talib untuk menulis perjanjian. Namun Quraisy meminta perubahan:
Selain itu, perjanjiannya kurang lebih berisi
- Kedua pihak sepakat untuk menghentikan peperangan selama sepuluh tahun, sehingga manusia hidup dalam keadaan aman.
- Barang siapa dari pihak Quraisy datang kepada Muhammad tanpa izin walinya, maka ia harus dikembalikan kepada Quraisy.
- Barang siapa dari pihak Muhammad datang kepada Quraisy, maka Quraisy tidak wajib mengembalikannya.
- Barang siapa dari kabilah Arab ingin bergabung dengan Muhammad, maka ia boleh melakukannya.
- Barang siapa dari kabilah Arab ingin bergabung dengan Quraisy, maka ia juga boleh melakukannya.
- Muhammad dan para sahabatnya tidak memasuki Mekah tahun ini, tetapi mereka boleh kembali pada tahun berikutnya.
- Ketika datang tahun berikutnya, kaum Muslim boleh tinggal di Mekah selama tiga hari untuk melaksanakan umrah.
- Kaum Muslim hanya boleh membawa senjata musafir (pedang dalam sarungnya) dan tidak membawa senjata perang.
Ketika perjanjian hampir selesai, datang seorang sahabat bernama Abu Jandal ibn Suhail bin Amr datang dengan rantai di kakinya karena disiksa di Mekah. Ia memohon kepada kaum Muslim agar tidak dikembalikan. Namun ayahnya sendiri, Suhayl, menuntut agar ia dikembalikan sesuai isi perjanjian. Para sahabat sangat sedih melihatnya. Namun Nabi tetap menepati perjanjian.
Isi perjanjian tersebut banyak mengecewakan para sahabat. Bahkan ketika Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk mencukur rambut kepalanya masing masing dan mnyembelih unta unta yang dibawa, sampai tiga kali, kaum muslimin hanya terdiam tidak ada seorang pun yang melaksanakan. Sampai akhirnya Ummu Salamah memberi saran kepada Rasulullah agar mencontohkannya terlebih dahulu. Rasulullah segera keluar dan mencukur rambut kepalanya dan menyembelih untanya. Hal ini membuat kaum muslimin mengikutinya. Dan para rombongan pun akhirnya kembali ke Madinah.
Ketika perjalanan pulang inillah turun surat Al Fath ayat 1-29, yang isinya banyak jaminan yang nyata dari Allah akan kemenangan kaum muslimin.
Kesabaran dan ketabahan Rasulullah dan kaum Muslimin dalam menerima dan melaksanakan hasil perjanjian Hudaibiyah ini banyak membuahkan hasil. Dengan adanya perjanjian ini perang antara Quraisy dan kaum Muslim berhenti, orang-orang bisa berinteraksi bebas, dakwah Islam menyebar tanpa tekanan perang, akibatnya banyak orang masuk Islam. Bahkan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash pun masuk Islam di fase ini. Hingga puncaknya 2 tahun kemudian, kaum muslimin berhasil membebaskan kota Mekah yang kita kenal dengan peristiwa Fathu Makkah.
Terkadang kesabaran dalam menanggapi sesuatu bisa membuah hasil yang manis dan lebih banyak keuntungannya. Kadang kala perubahan masyarakat tidak selalu instan, membangun pendidikan dan akhlak butuh waktu, jadi kadang harus menahan diri demi tujuan lebih besar.
Ketika umat Islam menunjukkan akhlak, kesabaran, dan kebijaksanaan seringkali justru membuka hati orang untuk memahami Islam.
Dalam banyak situasi provokasi terhadap Islam yang menimbulkan konflik sosial dan perbedaan pendapat di umat, dan reaksi emosional justru memperburuk keadaan.
Dari peristiwa Hudaibiyah membuahkan hasil semakin dakwah Islam tersebar ke jazirah Arab dan benar benar menjadi kemenangan yang nyata karena kesabaran dan ketabahan rasulullah dan kaum muslimin.
Allahu a'lam
Batang, 15 Maret 2026/ 26 Ramadan 1447
Rumah Tercinta
Ulul Albab
Sumber
Buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 2 karya KH Moenawar Chalil
Kajian Ustadz Khalid Basalamah https://www.youtube.com/watch?v=_M7CyBXLPz8
Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....