Sudah Seharusnya Menyadari Diri Sendiri


Di ujung bulan Ramadan kali, sudahkah kita melihat amal amal kita dalam sebulan kawan. Apakah amal yang kita perbuat ini niatnya gimana? Masihkah ikhlas atau sudah belok? Masihkah ada kesadaran diri kita dalam beramal atau sudah auto pilot sendiri? Sudahkah amal kita ini berkualitas atau karena hanya rutinitas saja?

Di dalam surat Al Hasyr, yang diawali dengan kisah pengusiran Yahudi Bani Nadhir ini ada sebuah ayat yang membuat penulis terpecut akan semua yang sudah penulis lakukan selama 28 hari Ramadan ini. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Hasyr 18)

Ayat ini didahului dengan perintah bertakwa dan ditutup pula dengan perintah bertakwa dengan disisipi tentang evaluasi. Syaikh Abdurrahman as Sa'di menjelaskan Allah memerintahkan mereka untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasanNya, serta memikirkan akibat baik dan buruk apa yang akan mereka dapatkan, serta apa yang mereka dapatkan dari amal perbuatan mereka yang bisa membawakan manfaat atau malapetaka bagi mereka di akhirat. Selain itu ayat ini juga memerintahkan untuk musahabah diri, terutama tentang amalnya. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut.

Hal ini berarti sangat menekankan pentingnya kesadaran akan amal yang kita lakukan. Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I juga menjelaskan bahwa sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus (taubatan nashuha) dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin malu kepada-Nya. 

Coba kita renungkan bersama, sudahkah selama 28 hari ramadan ini, puasa kita bener benar berpuasa atau sekadara puasa saja? 

Sudahkah sholat terawih kita kyusu? Atau sekadar gerakan lengkap, bacaan benar, tapi pikiran ke mana-mana?

Sudahkah niat sedekah kita karena Allah atau hanya konten ramadan? 

Sudahkah dakwah kita benar benar amar ma'ruf nahi munkar atau sekadar ingin dapat nama atau menang debat saja?

Al-Hasyr ayat 18 bukan sekadar menyuruh kita beramal, tapi menyuruh kita sadar, mengevaluasi, dan mengarahkan amal. Dengan tiga hal itu, akan membuat kita terarah dalam beramal dan hasil lebih maksimal.

Kesadaran diri sendiri, mengenali diri sendiri dan perbuatan diri sendirilah yang membuat kita semakin tinggi self awarness nya yang membuat lebih sedikit impulsif, lebih sehat mental, dan lebih mampu kontrol diri. Menariknya hal ini akan membuat kita semakin sering melakukan evaluasi diri dan pencegahan diri, bila dalam konteks beragama maka hal ini berkaitan dengan visi menyelamatkan akhirat, bila dalam konteks duniawi hal ini berkaitan dengan pencegahan dini dari suatu penyakit karena dengan sadar diri melakukan evaluasi dan skrining tentang dirinya.

'Ala Kulli Haal kita semoga kita senantiasa selalu menyiapkan masa depan kita dan memperhatikan perbuatan kita saat ini yang berpengaruh ke masa depan baik yang di dunia maupun yang di akhirat.

Allahu a'lam

Batang, 17 Maret 2026 / 28 Ramadan 1447
Rumah Tercinta



Ulul Albab

Sumber
Referensi: https://tafsirweb.com/10816-surat-al-hasyr-ayat-18.html

Comments

Popular posts from this blog

Tutupilah Celah Maksiat dan Penghalang Ketaatan

Teladan Cara Berdakwah dari Saudaranya Fir'aun

Sekali Lagi Tentang Bersabar

Diskusi Bapak dan Anak

Perkecambahan Tanaman