Teladan Cara Berdakwah dari Saudaranya Fir'aun
Ternyata tidak semua yang berhubungan dengan Fir'aun itu kafir, ada juga saudaranya yang mukmin dan menjadi pembela nabi Musa dan nabi Harun ketika berdakwah. Selain beriman kepada dua nabi tersebut, saudara Fir'aun itu pula selalu berusaha membela mereka. Hingga puncaknya seperti yang dijelaskan dalam surat Ghafir 26
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِىٓ أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُۥٓ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِى ٱلْأَرْضِ ٱلْفَسَادَ
Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi".
Kemudian dijelaskan di ayat selanjutnya dari 28 sampai 44 tentang cara lelaki saudara fir'aun ini dalam berdakwah.
وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَٰنَهُۥٓ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّىَ ٱللَّهُ وَقَدْ جَآءَكُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمْ ۖ وَإِن يَكُ كَٰذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُۥ ۖ وَإِن
يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُم بَعْضُ ٱلَّذِى يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir 28)
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan dalam tafsirnya di antara sebab- sebab itu adalah seorang lelaki beriman dari kaum fir’aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama ketika menampakkan keberpihakknya kepada mereka dan merahsiakan imannya. Mereka biasanya menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap bersebrangan dengan mereka. Sebagaimana Allah telah melindungi nabi Muhammad dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu thalib, yang mana Abu thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka. Kalau seandainya saja dia seorang muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya.
Ia berkata kepada kaumnya:
“Apakah kalian akan membunuh seorang lelaki hanya karena dia berkata: Rabbku adalah Allah?”
Lalu ia berdakwah dengan sangat cerdas:
-
Jika Musa berdusta, maka dosanya kembali kepada dirinya.
-
Jika Musa benar, kalian akan terkena azab.
Ucapan ini membuat majelis mulai ragu.
Ia mengingatkan mereka tentang umat-umat yang pernah dihancurkan Allah:
-
kaum Kaum Nuh
-
kaum Kaum 'Ad
-
kaum Kaum Tsamud
Ia berkata seakan memperingatkan:
“Aku khawatir kalian akan ditimpa azab seperti hari kehancuran umat-umat itu.
Karena ucapannya semakin berani, mereka mulai mengancamnya. Tetapi lelaki mukmin itu berkata dengan penuh tawakal:
“Wahai kaumku, kehidupan dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat itulah negeri yang kekal.”
Ia juga mengingatkan:
-
orang yang berbuat dosa akan dibalas setimpal
-
orang beriman akan masuk surga
Akhirnya ia menutup ucapannya dengan kalimat yang sangat kuat: “Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-Nya.” Kemudian Allah menyelamatkan lelaki itu.
Nah dari beberapa hal ini, penulis jadi berpikir, ada rahasia metode dakwah ini. Setelah direnungi dan dicoba mengingat-ngingat dan membaca beberapa artikel, penulis bisa menemukan beberapa poin penting, diantaranya
1. Laki laki ini Membela Nabi Musa dari rencana pembunuhan
Ayat 28
“Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia berkata: Rabbku adalah Allah, padahal dia telah datang kepada kalian dengan bukti dari Tuhan kalian?”
Tokohnya adalah seorang mukmin dari keluarga Fir'aun yang menyembunyikan imannya. Ia berdiri di majelis kerajaan ketika mereka hendak membunuh Nabi Musa. Ia tidak langsung menyerang Fir’aun, tetapi mengajukan pertanyaan yang menggugah hati. Tujuannya:
• membuat mereka berpikir
• meredakan emosi majelis

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....