Menyambung artikel sebelumnya tentang sebuah perbedaan dalam ibadah, bisa dibaca dahulu di sini, maka apakah semua lantas disikapi boleh tiap ada perbedaan? Atau ada kriteria selanjutnya? Penulis jadi inget ketika penulis ikut halaqah yang membahas kitab Fadhlul Islam karya Syaikh Muhammad at Tamimi. Disebutkan pada bab terakhir, bab 13, ada kisah antara Abdullah bin Ma'sud dan Abu Musa Al Asy'ari yang diriwayatkan oleh ad Darimi, ketika menjelang shalat subuh, para murid Abdullah bin Mas'ud yang duduk melingkari depan rumah beliau melihat Abu Musa Al Asy'ari datang ke rumah beliau.
"Apakah Abu Abdirrahman sudah keluar menemui kalian?" Mereka menjawab, "Belum."
Maka Abu Musa pun duduk bersama mereka menunggu kedatangan Abu Abdirrahman, yaitu Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu. Tidak lama kemudian beliau datang, lalu semua yang hadir berdiri dan menghampirinya.
Abu Musa berkata, "Wahai Abu Abdirrahman, baru saja aku melihat suatu perkara di masjid yang tidak aku sukai. Namun setahuku, demi Allah, mereka tidak menginginkan selain kebaikan." Abdullah bin Mas'ud bertanya, "Apakah itu?"
Abu Musa menjawab, "Jika Allah masih memanjangkan umurmu, engkau akan melihatnya sendiri. Aku melihat di masjid beberapa kelompok orang duduk membentuk lingkaran-lingkaran sambil menunggu shalat. Pada setiap lingkaran terdapat seorang pemandu. Di tangan mereka ada batu-batu kerikil untuk menghitung dzikir.
Pemandu itu berkata, 'Bertakbirlah seratus kali!' Maka mereka pun bertakbir seratus kali. Kemudian ia berkata, 'Bertahlillah seratus kali!' Maka mereka bertahlil seratus kali. Lalu ia berkata lagi, 'Bertasbihlah seratus kali!' Maka mereka pun bertasbih seratus kali."
Abdullah bin Mas'ud bertanya, "Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka?"
Abu Musa menjawab, "Aku belum mengatakan apa pun kepada mereka. Aku menunggu pendapat dan perintahmu."
Mendengar hal itu, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Mengapa tidak engkau perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka saja? Dan jaminlah kepada mereka bahwa tidak satu pun kebaikan mereka akan hilang."
Ini
menunjukkan fiqh dari Abdullah bin Mas’ud, yang lebih bermanfaat bagi mereka
yaitu memuhasabah diri menghitung dosa-dosanya, adapun kebaikan-kebaikan tadi
maka jangan khawatir itu tidak akan disia-siakan oleh Allāh ﷻ.
Setelah itu Abdullah bin Mas'ud segera bangkit. Abu Musa dan orang-orang yang hadir pun ikut bersamanya menuju tempat berkumpulnya kelompok-kelompok dzikir tersebut.
Ketika sampai di sana, beliau berdiri di hadapan mereka dan bertanya, "Apa yang sedang kalian lakukan?" Mereka menjawab, "Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah batu-batu kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih." Maka Abdullah bin Mas'ud berkata, "Hitunglah dosa-dosa kalian saja! Aku menjamin bahwa kebaikan kalian tidak akan hilang sedikit pun."
Kemudian beliau menegur mereka dengan keras seraya berkata, "Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Alangkah cepatnya kalian menuju kesesatan. Para sahabat Nabi ﷺ masih banyak berada di tengah-tengah kalian. Pakaian beliau belum usang dan periuk-periuk beliau belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian mengira berada di atas petunjuk yang lebih baik daripada petunjuk Nabi Muhammad ﷺ? Ataukah kalian sedang membuka pintu-pintu kesesatan?"
Mereka menjawab, "Demi Allah, wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan selain kebaikan."
Namun Abdullah bin Mas'ud menjawab dengan kalimat yang menjadi pelajaran besar bagi umat Islam sepanjang masa: "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya."
Beliau kemudian mengingatkan mereka tentang sabda Rasulullah ﷺ yang pernah beliau dengar secara langsung, bahwa akan muncul suatu kaum yang membaca Al-Qur'an, tetapi bacaan mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka membacanya dengan lisan, namun tidak meresap ke dalam hati dan tidak membuahkan pemahaman yang benar.
Lalu beliau berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu. Bisa jadi kebanyakan dari mereka adalah kalian."
Setelah menyampaikan nasihat tersebut, Abdullah bin Mas'ud berpaling dan meninggalkan mereka.
Tahun-tahun berlalu. Apa yang dahulu diperingatkan oleh Abdullah bin Mas'ud ternyata menjadi kenyataan. Amr bin Salamah, salah seorang yang menyaksikan peristiwa itu, kemudian berkata: "Kami melihat kebanyakan orang yang dahulu berada dalam kelompok-kelompok dzikir tersebut, pada hari Nahrawan mereka memerangi kami bersama kaum Khawarij."
Selain itu Rasulullah juga bersabda
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»
"...Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan Sunnahku, Sunnah Khulafa Rasyidin. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat."
Ustadz Dr. Abdullah Roy menjelaskan di sini Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau, Nabi ﷺ juga memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para khulafā’ ar-rāsyidīn al-mahdiyyīn.
Beliau ﷺ mengatakan:
"Dan hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnah para khulafā’ ar-rāsyidīn al-mahdiyyīn sepeninggalku."
Para khulafā’ tersebut disifati dengan dua sifat yang agung. Yang pertama adalah ar-rāsyidīn. Ar-rāsyid berarti orang yang memiliki ilmu dan kelurusan. Mereka mengetahui kebenaran berdasarkan ilmu yang mereka miliki. Mereka bukan orang yang beramal tanpa ilmu, bukan pula orang yang berbicara tentang agama tanpa landasan.
Kemudian yang kedua adalah al-mahdiyyīn, yaitu orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah سبحانه وتعالى. Jika sifat pertama berkaitan dengan ilmu, maka sifat kedua berkaitan dengan amal. Sebab tidak setiap orang yang berilmu mendapatkan taufik untuk mengamalkan ilmunya. Ada orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengikutinya. Adapun para khulafā’ ar-rāsyidīn, mereka diberikan keutamaan berupa ilmu yang mendalam sekaligus taufik untuk mengamalkan ilmu tersebut. Oleh karena itu terkumpul pada diri mereka dua perkara yang sangat agung, yaitu ilmu dan amal.
Dan ini termasuk perkara yang jarang terjadi. Jarang seorang pemimpin sekaligus menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya dan pada saat yang sama menjadi orang yang paling kuat dalam mengamalkan ilmunya. Biasanya seorang pemimpin disibukkan dengan urusan dunia, kekuasaan, pemerintahan, dan berbagai kesibukan lainnya. Akibatnya ilmu agamanya sedikit atau pengamalannya kurang sempurna.
Namun para khulafā’ ar-rāsyidīn berbeda. Mereka adalah orang-orang pilihan dari umat ini. Mereka memimpin umat dengan ilmu, dan mereka mengamalkan ilmu tersebut sebelum memerintahkannya kepada orang lain. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum. Siapa saja yang mempelajari sirah mereka akan menemukan betapa dalam ilmu mereka tentang agama Allah dan betapa besar kesungguhan mereka dalam beribadah serta mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ.
Karena itulah Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka.
Bukan berarti mereka memiliki agama baru atau sunnah tersendiri yang berbeda dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Tidak demikian. Sunnah mereka pada hakikatnya adalah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Jalan hidup mereka adalah meneladani Nabi ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan.
Maka ketika kita diperintahkan mengikuti sunnah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, sesungguhnya kita sedang diperintahkan untuk mengikuti cara mereka dalam berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah ﷺ.
Setelah itu Nabi ﷺ memberikan penekanan yang sangat kuat. Beliau bersabda:
"Hendaklah kalian berpegang teguh dengannya."
Kata tamassaka menunjukkan makna memegang sesuatu dengan kuat dan tidak melepaskannya. Seolah-olah Nabi ﷺ ingin menggambarkan bahwa di akhir zaman akan banyak perkara yang berusaha memalingkan manusia dari sunnah. Karena itu seorang muslim harus memegang sunnah dengan kuat.
Namun ternyata Nabi ﷺ tidak berhenti sampai di situ. Beliau menambahkan penekanan yang lebih kuat lagi dengan sabdanya:
"Wa 'adhdhū 'alaihã bin nawājidz."
"Dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian."
Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ menggunakan ungkapan ini. Bukan sekadar memegang, tetapi juga menggigit. Dan bukan dengan sembarang gigi, melainkan dengan gigi geraham, yaitu gigi yang paling kuat.
Ini menunjukkan besarnya kebutuhan seorang muslim untuk berpegang teguh dengan sunnah. Bukan sekadar mengenalnya, bukan sekadar mengaguminya, tetapi mempertahankannya dengan sekuat tenaga.
Semakin kuat seseorang memegang sunnah, semakin besar peluang keselamatannya. Sebaliknya, ketika seseorang mulai melepaskan sunnah, maka ia berada dalam bahaya yang besar karena bisa terjatuh ke dalam bid'ah dan penyimpangan.
Dari sini kita memahami bahwa perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah sekaligus merupakan peringatan keras agar menjauhi bid'ah. Sebab seseorang tidak mungkin memegang sunnah dengan kuat apabila pada saat yang sama ia lebih memilih jalan-jalan bid'ah.
Oleh karena itu seorang muslim hendaknya selalu berusaha mempelajari sunnah, mengamalkannya, mendakwahkannya, serta bersabar di atasnya. Karena keselamatan tidak terletak pada banyaknya amalan, tetapi pada kesesuaian amalan tersebut dengan petunjuk Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Demikian pula para sahabat Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup untuk menjadikan suatu amalan diterima di sisi Allah. Sebuah amalan harus dibangun di atas dua landasan: keikhlasan kepada Allah dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Sebab, tidak setiap perkara yang dianggap baik oleh manusia merupakan kebaikan dalam agama. Jalan keselamatan adalah mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dan para sahabatnya, serta menjauhi segala bentuk amalan yang tidak memiliki landasan dari syariat yang beliau bawa.
Allahu a'lam
Klinik Assyifa Batang
15 Juni 2026 M - 29 Dzulhijjah 1447 H
Ulul Albab
Sumber
Kitab Fadhlul Islam Bab 13, Karya Syaikh Muhammad at Tamimi
Halaqah Silsilah Ilmiyah Abdullah Roy bab Fadhlul Islam
HR. Abu Dawud no. 4607
HR. Ad-Darimi no. 210
Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....