Meneladani Cara Nabi Zakariya Berdoa

Pada hari ini sampailah pada surat Maryam yang dimulai dengan permintaan hamba Allah yaitu nabi Zakariya

 رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا ۝

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَٰلِيَ مِن وَرَآئِي وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا ۝

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Wahai Rabbku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Rabbku. Dan sungguh aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Maka anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak. Yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya‘qub, dan jadikanlah ia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (Maryam 4-6)

Mari kita perhatikan bagaimana Nabi Zakariya memulai doanya dengan menyebutkan seluruh kekurangan dan kelemahannya sertau menyatakan prasangka baik kepada Allah dan bahwabdirinya tidak pernah putus asa dalam berdoa kepada Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan salah satu wasilah terbaik dalam berdoa adalah menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaannya, yang berarti dia berlepas diri dari daya dan kekuatan (pribadi) dan ketergantungan hati hanya kepada daya dan kekuatan Allah. Begitu pula dengan menyebutkan nikmat yang Allah anugerahkan selama ini (dalam ayat ini ditegaskan nabi Zakariya bahwa dia tidak pernah dikecewakan oleh Allah) merupakan wasilah juga dalam berdoa.

Berdoa dengan kelemahan dan kelembutan sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya, 

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

diperjelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4: 402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Pada ayat ini Nabi Zakariya menutup dengan يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (Yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya‘qub, dan jadikanlah ia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai) yang mengajarkan bahwa beliau berdoa tidak hanya untuk kepentingan beliau semata, namun juga untuk agama dan akhiratnya yang berarti ditutup dengan visi yang panjang.

Doa nabi Zakariya kemudian Allah kabulkan dengan hamilnya istrinya dan kemudian lahirlah anaknya yang bernama Yahya.

Maka bisa penulis simpulkan dari hal tersebut, pola nabi Zakariya sebagai berikut

  1. Panggil Rabb dengan lembut

  2. Jelaskan kondisi tanpa mengeluh

  3. Ingat kebaikan Allah sebelumnya

  4. Sampaikan kebutuhan

  5. Tutup dengan permintaan kualitas 

Semoga kita bisa meneladani cara Nabi Zakariya dalam berdoa, dan semoga Allah memberi keistiqomahan kepada kita dalam beribadah.

Allahu a'lam

Batang, 2 Maret 2026/ 13 Ramadan 1447

Rumah Tercinta



Ulul Albab


Sumber

Tafsir as-Sa'di >>Referensi: https://tafsirweb.com/5050-surat-maryam-ayat-4.html

Buku Mendulang Mutiara Faedah dari Kisah Para Nabi & Rasul karya Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc.,MA.,

https://rumaysho.com/9884-10-faedah-berdoa-dengan-lemah-lembut.html


Comments

Popular posts from this blog

Jagalah Amanah dan Bertaubatlah Segera

Dunia atau Akhirat

Waktu Combo untuk Berdoa

KHGT dan Wujudul Hilal

Jangan Terbuai akan Masa Depan