Utamakan Bersabar


Allah berfirman خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

“Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, maka janganlah kamu meminta kepada-Ku agar disegerakan.” ( Al Anbiya 37)

Ayat ini turun dalam konteks orang-orang yang tergesa meminta azab atau meminta pembuktian cepat atas janji Allah. Namun secara umum ayat ini menjelaskan tabiat dasar manusia: suka terburu-buru.

Berikut beberapa pelajaran (hikmah) dari ayat ini: 

1. Tabiat manusia cenderung tergesa-gesa

Allah menjelaskan bahwa manusia memiliki fitrah ingin cepat:

  • ingin hasil cepat

  • ingin masalah cepat selesai

  • ingin doa cepat dikabulkan

Karena itu manusia harus melatih sabar, sebab sifat alami ini perlu dikendalikan.

2. Tidak semua yang kita inginkan baik jika disegerakan

Kadang manusia ingin sesuatu cepat terjadi, padahal belum waktunya.

Allah menunda karena:

  • belum baik waktunya

  • belum siap manusianya

  • ada hikmah yang lebih besar.

Ini sesuai dengan makna ayat lain seperti Al-Baqarah 216: sesuatu yang kita suka belum tentu baik bagi kita.

3. Tergesa-gesa sering membawa penyesalan

Banyak kesalahan manusia terjadi karena:

  • keputusan emosional

  • tidak menunggu pertimbangan

  • tidak sabar menunggu hasil.

Karena itu para ulama mengatakan:

العجلة تورث الندامة
Tergesa-gesa melahirkan penyesalan.”

4. Sabar adalah cara mengatasi sifat tergesa-gesa

Islam mengajarkan tuma’ninah (ketenangan) dalam hidup.

Dalam hadis disebutkan:

التأني من الله والعجلة من الشيطان
“Ketenangan berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa dari setan.”
(HR. At-Tirmidzi)

5. Allah memiliki waktu terbaik untuk segala sesuatu

Allah menutup ayat dengan peringatan:

فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ
“Janganlah kalian meminta disegerakan.”

Artinya:

  • janji Allah pasti datang

  • tapi sesuai waktu yang Allah tentukan, bukan waktu manusia.


Kemudian Allah langsung memberi contoh kisah tidak bersabar (tersega-gesa) yang membuat munculnya ujian lain, yaitu kisah nabi Yunus yang dijelaskan pada ayat 87-88

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".  Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (al Anbiya 87-88)

Singkatnya dua ayat ini menceritakan kalau Nabi Yunus setelah berdakwah kepada umatnya dan umatnya tidak segera menyambut ajakan dakwahnya, nabi Yunus memutuskan untuk pergi meninggalkan kaumnya dengan rasa marah tanpa perintah Allah, karena tidak bersabar, dengan mengancam kaumnya akan ditimpa adzab Allah. Ketika pergi meninggalkan kaumnya, kaumnya melihat tanda tanda akan turunnya adzab, maka kaumnya segera bertaubat (lebih lengkap baca kisah pertaubatannya di sini). 

Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz menjelaskan dua ayat ini dalam tafsirnya, saat dia meninggalkan kaumnya, dia menaiki perahu, namun menumpangnya telah melebihi kapasitas perahu itu sehingga mereka takut akan tenggelam. Maka mereka mengusulkan agar mereka membuat undian siapa yang akan dilempar ke laut; dan undian itu didapatkan Yunus, sehingga dia melompat ke laut dengan sendirinya, kemudian dia ditelan oleh ikan paus. Di dalam gelapnya perut ikan paus dan gelapnya lautan, dia berdoa dengan mengakui sikap ketidaksabarannya dan dia bertaubat kepada Allah dan mengesakan-Nya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang zalim.” Maka Kami kabulkan doanya sehingga Kami menyelamatkannya dari masalah besar itu. sebagaimana Kami menyelamatkannya dari kesulitan, demikianlah Kami akan menyelamatkan orang-orang beriman dari kesulitan mereka jika mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Dari kisah ini kita bisa dapat tarik beberapa kondisi, mayoritas mufassir menjelaskan:

  • Nabi Yunus pergi sebelum ada izin Allah

  • Karena merasa kaumnya telah menolak dan azab akan turun

  • Ada unsur isti'jal (tergesa-gesa)

Tetapi perlu digarisbawahi:

🔹 Ini bukan karena lemah iman
🔹 Bukan karena benci pada tugas kenabian
🔹 Bukan maksiat besar

Ini disebut oleh ulama sebagai:

ترك الأولى (meninggalkan yang lebih utama)

Pada kondisi ini, Allah menegur nabi Yunus dengan ditelan oleh ikan. Ustadz dr. Raehanul Bahraen, SpPK., MSc., menjelaskan  أي لا تكن كيونس في استعجاله على قومه، وخروجه قبل أن يأذن الله له

Maksudnya: jangan seperti Yunus dalam tergesa-gesa terhadap kaumnya dan keluar sebelum ada izin Allah. Ketidaksabaran dapat berakibat ujian besar.


Maka sudah semestinya kita selalu bersabar dan tidak tergesa gesa dalam menanggapi suatu musibah dan suatu kejadian. Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran dan keteguhan dalam kebaikan kepada kita.

Allahu a'lam


Batang, 5 Maret 2026/16 Ramadan 1447
Klinik Assyifa Batang



Ulul Albab


Sumber

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah >>> Referensi: https://tafsirweb.com/5599-surat-al-anbiya-ayat-87.html dan Referensi: https://tafsirweb.com/5600-surat-al-anbiya-ayat-88.html

Kajian Webinar Kiat Sabar, materi ke-2 bersama dr. Raehanul Bahraen, SpPK., M.Sc.,

Comments

Popular posts from this blog

Move On Saudaraku! Ini Baru yang Namanya Ujian

Nasehat Saat Momen Checkpoint (Nasehat dari Khutbah Idul Fitri)

Anatomi Jantung

Quote for this time

Jangan Tergesa-gesa