Move On Saudaraku! Ini Baru yang Namanya Ujian
Sampailah kita ini di hari terakhir bulan Ramadan, bulan yang di mana mudah sekali untuk berbuat amal sholih, kebajikan, dan sangat mudah untuk menghindari amal yang jelek. Bulan di mana keberkahan dibuka seluas luasnya, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Yaa, bulan ini akan meninggalkan kita. Setelah 30 hari lamanya kita dibentuk, mulai dari bangun sahur, dilanjut sholat subuh berjamaah, mendengarkan kuliah subuh, lanjut puasa seharian penuh, ditutup dengan menunggu buka puasa, sholat maghrib berjamaah, lantas shalat isya dan dilanjut qiyamul lail minimal 11 rakaat; kita secara tidak sadar sangat dimudahkan menjalankan amalan itu, namun hari ini bulan Ramadan akan meninggalkan kita.
Apakah dengan selesainya bulan ini, ujian kita sudah selesai? Ternyata tidak, ternyata ujian sebenarnya baru muncul setelah bulan Ramadan selesai. Apakah dengan selesainya bulan Ramadan ini, amalan kita yang capek capek kita jalani otomatis diterima oleh Allah? Apakah dengan selesainya bulan ini, lantas kita langsung bubar jalan balik ke setingan awal sebelum puasa?
Allah berfirman
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (al Insyirah 7-8)
Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil menjelaskan bahwa langkah seorang muslim itu bila telah menyelesaikan suatu perkara agama, maka bergeraklah dia untuk pekerjaan dunia, dan jika telah selesai perkara dunia, maka bergeraklah dia untuk perkara agama (akhirat); seorang muslim tidak akan membiarkan dirinya terdiam dan menganggur setelah menyelesaikan satu perkara.
Dilanjutkan Syaikh Abdurrahman as Sa'di menjelaskan seorang muslim bila telah selesai mengejerkan suatu urusan dengan bersungguh sungguh dan melanjutkan urusan lainnya, maka ia juga akan bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memohon kepada Allah, "Dan hanya kepada Rabbmulah,” semata, “hendaknya kamu berharap,” yakni, besarkanlah harapanmu agar doamu dikabulkan dan janganlah seperti orang yang bermain-main seusai bekerja dan berpaling dari Rabb mereka dan berpaling dari mengingatNya sehingga kau akan menjadi orang merugi.
Maka sudah semestinya kita sebagai muslim ketika sudah selesai dengan perkara Ramadan, kita harus move on, menghadapi ujian sesungguhnya, yaitu di bulan Syawal dan bulan-bulan setelahnya. Para Ulama menjelaskan bulan Syawal adalah bulan imtihan (ujian) di mana muslim duji apakah semangat ibadah dan kebiasaan baik selama ramadan dapat dipertahankan atau minimal masih ada yang bisa dipertahankan, atau malah amalan kebaikan kita turun dan bubar jalan.
Ibnu Rajab al Hanbali menjelaskan
فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها
Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.
Maka, move on saudaraku! Mari kita melangkah ke depan, jangan tenggelam dengan bayang bayang nikmatnya ibadah di bulan Ramadan saja!
Tapi mari kita move on, mari kita sadari, bahwa besok adalah mulainya ujian yang sebenarnya! Maka mari kita jaga amal kita, minimalnya kita bisa lakukan puasa 6 hari di bulan syawwal. Minimalnya kita jaga sholat qiyamul lail kita, minimalnya shalat witr 3 rakaat sebelum tidur. Dan lakukan ibadah lain.
Ada sebuah ungkapan dari para ulama كُنْ رَبَّانِيًّا وَلَا تَكُنْ رَمَضَانِيًّا (“Jadilah hamba yang rabbani (dekat dengan Allah sepanjang waktu), dan jangan hanya menjadi ‘hamba Ramadhan' (muslim musiman)
Maka kita bukan hanya menjadi “hebat di Ramadhan”, tapi “berubah karena Ramadhan dan terus hidup dengan perubahan itu.”
Karena
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit”
(HR. Bukhari & Muslim)
Dua pesan terakhir yang penulis bisa tulis buat diri penulis sendiri
- Bila memang sudah selesai dengan perasaan tersebut, walau masih membekas, ayo segeralah move on, jangan ditutup dengan bayang bayang masa lalu. Karena yang dimiliki kita ini masa sekarang, kegemilangan masa lalu itu tidak bisa didapatkan lagi hanya dengan mengenangnya. (pesan ini khusus untuk penulis yang memang masih gagal move on sampai sekarang, lebih lanjut baca di sini )
- Mari kita akhiri amalan bulan Ramadan ini dengan memperbanyak doa رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ السَّمِيۡعُ ; karena nabi Ibrahim dan nabi Ismail pun berdoa demikian setelah beliau membangun Ka'bah (lebih lanjut di sini )
Tafsir as-Sa'di >> Referensi: https://tafsirweb.com/12839-surat-al-insyirah-ayat-7.html

Comments
Post a Comment
Mari berkomentar dengan baik dan bijak.....